Sertifikasi dan standar kompetensi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya pariwisata dan mendukung daya saing pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyerahkan sertifikasi kompetensi bagi tenaga kerja sektor pariwisata. Sertifikasi diberikan kepada 21.500 orang tenaga kerja meliputi bidang hotel dan restoran, spa, usaha perjalanan wisata, pemandu wisata, jasa boga, MICE, pemandu wisata selam, pemandu ekowisata, pemandu wisata arung jeram dan pemandu museum. Dari jumlah tersebut, sertifikasi terbanyak diberikan untuk bidang hotel dan restoran sebanyak 9.590 orang, sementara yang terkecil adalah pemandu museum dengan jumlah 300 orang.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Pangestu menilai dengan diberlakukannya ASEAN Economic Community tahun 2015 mendatang, mobilitas tenaga kerja termasuk di sektor pariwisata, akan semakin bersaing. Maka SDM Indonesia harus bisa bersaing dan memiliki standar dan kompetensi yang diakui. “Sertifikasi memberikan pengakuan atas kompetensi tenaga kerja dan meningkatkan kualitas dan daya saing tenaga kerja pariwisata Indonesia sehingga menyumbang kepada daya saing industri pariwisata di dalam negeri maupun mengindikasikan kebolehan mereka untuk dapat berkarya di luar Indonesia,” jelasnya.

Pelaksanaan kegiatan fasilitasi sertifikasi kompetensi ini adalah mandat Undang-Undang No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan dan telah dituangkan dalam rencana strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2012. Tahun ini Kemenparekraf menargetkan sebanyak 15.000 dan jumlah mereka yang mendapat sertifikasi tahun ini adalah pencapaian yang positif untuk bisnis pariwisata, peningkatan daya saing, dan kualitas tenaga kerja di sektor pariwisata. Mari Pangestu menambahkan untuk sektor ekonomi kreatif sertifikasi baru dberikan pada 2014. “Tahun 2013 kita akan menyiapkan terlebih dahulu infrastruktur pendukung kegiatan sertifikasi kompetensi. Sementara rintisan pengembangan standar kompetensinya sudah dimulai pada tahun ini,” ungkap dia.

Dari tahun ke tahun jumlah tenaga kerja yang memperoleh sertifikasi pariwisata terus mengalami peningkatan. Tahun lalu jumlahnya mencapai 15.515 orang dari 9 bidang pariwisata yang melibatkan 9 lembaga sertifikasi. Sementara tahun 2010, sertifikasi diberikan kepada 5.000 orang dari 7 bidang pariwisata melalui 6 lembaga sertifikasi. Sekalipun jumlah tenaga kerja yang disertifikasi masih terbatas, akan tetapi “daya jual” tenaga kerja pariwisata Indonesia di tataran regional ASEAN dan juga internasional tergolong bagus, khususnya di bidang hotel dan restoran, dan spa. Banyak tenaga kerja asal Indonesia yang berhasil menjadi pimpinan usaha hotel dan spa di mancanegara, dan ini merupakan keunggulan kompetitif yang perlu dilanjutkan dan dipertahankan kualitasnya.

Apalagi dengan berlakunya MRA (Mutual Recognition Arrangement) bidang pariwisata sejak 2009, upaya peningkatan kualitas harus dipelihara, agar tenaga kerja pariwisata kita tetap unggul di kawasan ASEAN. Pelaksana sertifikasi kompetensi bidang pariwisata pada tahun ini dilaksanakan oleh 9 Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yaitu LSP Hotel dan Restoran di Jakarta, LSP Pariwisata Jakarta, LSP Pariwisata Nusantara di Bandung, LSP Pariwisata Indonesia di Bali, LSP Spa Nasionaldi Jakarta, LSP Cohe spa di Surabaya, LSP Pariwisata Nasional di Surabaya, LSP Wiyata Nusantara di Yogyakarta dan LSP MICE di Jakarta. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif I Gde Pitana mengemukakan pentingnya Indonesia memiliki kualitas SDM pariwisata dan ekonomi kreatif yang mumpuni. Di satu sisi Indonesia memiliki keunggulan dengan mempunyai kuantitas SDM yang melimpah, akan tetapi di sisi lain kalau keberlimpahan ini tidak dikelola dengan baik kualitasnya, justru akan menimbulkan problem tersendiri.

Leave a Comment

Close